Jl Mawar No 44 Kel Sario Kec Sario Kota Manado 95114 admin@gkmi.info 0821 9502 8806

SEJARAH SINGKAT

Sejarah Singkat GKMI

Diawali oleh seorang Weliam Wangko anggota militer kerajaan Belanda (KNIL) yang berdinas di Bandung Jawa Barat dengan pangkat Kopral, ia dipensiunkan dini pada awal tahun 1920 dan kembali ke Minahasa serta berdomisili di Langowan.

Ketika Weliam Wangko menerima Tuhan Yesus Kristus, dan baptisan air (selam) serta dipenuhi dengan Roh Kudus, dan mendapat karunia-karunia antara lain hikmat dan marifat sehingga ia dapat mengetahui kesalahan/dosa dari rekan-rekannya serta komandannya, karena rekan-rekan serta komandannya sulit untuk menerima pernyataan-pernyataan tersebut sehingga mereka memvonis Weliam Wangko tidak waras atau terganggu jiwa, Komandan Militer Belanda menugaskan seorang dokter untuk memeriksa kejiwaan dari Weliam Wangko .

Waktu dokter tersebut sedang memeriksanya, maka Roh Tuhan datang kepada Weliam Wangko dan secara langsung dokter tersebut ditegur atas perbuatan dosa-dosanya yang dilakukan, dokter tidak dapat menerima, merasa malu dan marah, akibatnya dokter mengeluarkan surat keterangan hasil pemeriksaan bahwa Weliam Wangko  terganggu kejiwaannya dan disarankan diberhentikan dari Dinas Kemiliteran serta dipulangkan ke Daerah asalnya Langowan Minahasa.

Pada awal April 1925 setelah Weliam Wangko berada di Langowan Minahasa, beliau inilah yang membawa terang Roh Kudus yang merupakan permulaan pergerakan Kharismatik di Langowan.

Pelayanannya melalui kesaksian pribadi dan mendoakan orang-orang sakit semuanya diiringi dengan kuasa dan tanda mujizat. Banyak orang-orang sakit disembuhkan serta menelanjangi perbuatan-perbuatan jahat dan ada juga orang mati dibangkitkan, hal ini mengingatkan kita akan perbuatan Yesus. Salah satu yang mengalami kebangkitan waktu itu adalah Bapak Habel Lumangkun, Warga Desa Amongena Langowan dan ia masih hidup sampai sepuluh tahun lagi. Mujizat-mujizat lainnya adalah Bapak Dolof Lumingas asal Desa Manembo Langowan yaitu kepalanya dipaku dari kiri ke kanan sampai tembus, Weliam Wangko mencabut paku tersebut lalu berkata : “dalam nama Tuhan Yesus, Sembuh !” dan langsung sembuh dan tidak mengalami kematian. Karunia nubuatan yag diterima Weliam Wangko pada waktu itu cukup mencengangkan bagi banyak orang yaitu sebelum perang dunia kedua, ada beberapa rumah di Langowan yang ia tunjuk dengan tongkatnya dan berkata “suatu waktu rumah ini akan hancur oleh bom sekutu”, dan hal tersebut terjadi tetapi ada rumah keluarga Sigarlaki disamping gereja sentrum GMIM Langowan yang tidak ditunjuk, rumah tersebut tidak ditimpa oleh bom.

Penyerahan Mandat Kepemimpinan Kelompok Persekutuan

Ditepi Pantai Sario Manado saat Weliam Wangko akan dinaikan ke perahu menuju kapal Belanda yang nama kapal tersebut “Nonteku” Weliam Wangko berkata kepada Gerard W. Rawung sambil menyepak kakinya dan memukul kepala Gerard W. Rawung dengan Alkitab besar ia berkata dalam bahasa daerah “Co re temmemboi parungan, taru-taruyan nange se siding jemaat” yang artinya “Kamu yang harus melanjutkan memimpin persekutuan doa ini”. Gerard tidak marah atas cara Weliam Wangko tersebut tapi dengan rendah hati ia berlutut dan berkata “Haleluya, Haleluya, Haleluya”.

Pada tahun 1942 sampai 1945 masa pendudukan Jepang ibadah tetap dilakukan di tempat-tempat penyingkiran dan untuk pertama kalinya kelompok persekutuan doa ini membentuk pengurus dengan susunan sebagai berikut :

Ketua                    :  Gerard W. Rawung

Panitera               :  Heybert Suwuh (Ober), Meninggal dunia tahun 1950 dan digantikan oleh Rulan Sambeka

Penyimpan         :  Albert Rawung

Anggota               :  Paul Londa, Paul Kembuan, Rulan Sambeka, David Manaroinsong , Clas Oroh, Arnold Makarawung, Habel Tumangkeng dan Viktor Tuju.

Saat sedang doa dan puasa Gerard W. Rawung mengutus Ebert Tumangkeng, Heybert Suwuh dan Jhon Oroh untuk ketemudengan Bpk. DS. Rewahyang merupakan kawan dekat Gerard W. Rawung untuk berdiskusi langkah-langkah apa yang harus diambil, maka DS. Rewah menyarankan untuk mendirikan Organisasi Gereja permanen lalu membuat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan jangan lagi berlindung di Gereja yang lain. Lalu utusan Gerard W. Rawung bertanya apa nama gereja yang akan didirikan dan dijawab DS. Rewah “Maranatha” yang artinya “Tuhan Yesus Datanglah”. Maka kembalilah utusan-utusan ini serta melaporkan hasil pembicaraan dengan DS. Rewah kepada Gerard W. Rawung dan beliau sangat terkesan atas hasil pembicaraan tersebut, maka diadakanlah rapat Pucuk Pimpinan dan sebagai hasil dari rapat tersebut menghasilkan 2 keputusan, yaitu :

  1. Menugaskan kepada Pdt. A. B. Tering untuk menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gereja.
  2. Mendirikan organisasi Gereja dengan nama “Gereja Kristen Maranatha”.

Maka pada akhir tahun 1951 papan nama Gereja Bahtera Injil Dua diturunkan dan diganti dengan nama “Gereja Kristen Maranatha”

Konferensi  I :

Ketua                     :  Pdt Gerard Wilhemus Rawung

Wakil                     :  Pdt. Ayub Benyamin Tering

Panitera                :  Paul Londah

Wakil                     :  David Manaroinsong

Penyimpan          :  Paul Kembuan

Komisaris             :  Nicolas Oroh

                                  Victor Luther Tuju

                                  Wiliam Ante

                                  Heibert Tumangkeng

                                  Johan Lumangkun

Susunan Pengurus Pusat Tahun 1952 – 2017

Gerard Rawung & Paul Londah

1952 – 1954 ; 1954 – 1956

Pdt. Gerard Wilhemus Rawung (Ketua)

Pdt. Paul Londah (Panitera)

1956 – 1958

Pdt. Gerard Wilhemus Rawung (Ketua I)

David Manaroinsong (Sekretaris I)

1958 – 1960        

Pdt. Gerard Wilhemus Rawung (Ketua I)

Pdt. Ruland Sambeka (Sekretaris I)

1960 – 1962 ; 1962 – 1964

Pdt. Gerard Wilhemus Rawung (Ketua I)

Pdt. Albert Ante (Sekretaris I)

1964 – 1966        

Pdt. Gerard Wilhemus Rawung (Ketua I)

Pdt. Ani Lumangkun (Sekretaris I)

1966 – 1968        

Pdt. Gerard Wilhemus Rawung (Ketua)

Nicholas J. Rumondor (Sekretaris I)

1968 – 1970 ; 1970 – 1974

Pdt. Gerard Wilhemus Rawung (Ketua Umum)

Pdt. Lendert H. Longkutoy (Sekretaris I)

1974 – 1979 

Pdt. Gerard Wilhemus Rawung (Ketua Umum)

Pdm. J. E. Sumual (Sekretaris I)

1979 – 1983 

Pdt. Gerard Wilhemus Rawung (Ketua Umum)

Pdt. Lendert H. Longkutoy (Sekretaris I)

1983 – 1987 

Pdt. Gerard Wilhemus Rawung (Ketua Umum)

Pdt. Joojte J. Lalujan (Sekretaris Umum)

1987 – 1991  

Pdt. Heybert Suwuh (Ketua Umum)

Pdt. Joojte J. Lalujan (Sekretaris Umum)

1991 – 1995  

Pdt. Heybert Suwuh (Ketua Umum)

Pdt. Drs. J. E. Sumual M.Div (Sekretaris Umum)

1995 – 1999  

Pdt. DR. Heybert Suwuh, STh (Ketua Umum)

Pdt. Joojte J. Lalujan, MA (Sekretaris Umum)

1999 – 2003 

Pdt. Joojte J. Lalujan, MA (Ketua Umum)

Pdt. Robby Lempas, S.Th (Sekretaris Jendral)

2003 – 2007        

Pdt. Joojte J. Lalujan, MA (Ketua Umum)

Pdt. Herry Kawulur, S.Th (Sekretaris Jendral)

2007 – 2012

Pdt. Glenn Gouw (Ketua Umum)

Pdt. Drs. Hengke Boyke Suwuh, Sth, MSc (Sekretaris Umum)

2012 – 2017        

Pdt. DR. Glenn Gouw (Ketua Umum)

2012 – 2015  

Pdt. Drs. Hengke Boyke Suwuh, Sth, MSc (Sekretaris Umum)

2015 – 2017  Pdt. Robby Lempas (Sekretaris Umum)

2017 – 2022 

Pdt. Drs. Hengke Boyke Suwuh, Sth, MSc

(Ketua Umum)

2017 – 2018 Pdt. Hanny Kolamban, MTh  (Sekretaris Umum)

Sejarah
Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI)

ARTIKEL

Artikel-artikel menarik akan segera menyusul.

Bagi yang ingin membagikan artikel, dapat mengirimkannya ke alamat email kami di admin@gkmi.info dan semua isi artikel akan melewati proses auditor serta diberikan kewenangan bagi kami untuk mempublikasikannya.

Kami nantikan artikel-artikel dari anda.

Terima Kasih, Tuhan Yesus memberkati,

%d blogger menyukai ini: